hitcounter
Sunday , November 28 2021

Gunakan Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital dengan Benar

Kebebasan berekspresi merupakan hal penting bagi manusia sebagai cara untuk menjamin pemenuhan diri dan mencapai potensi maksimal dari seseorang untuk pencarian kebenaran dan pengetahuan.

“Kebebasan berekspresi penting dalam proses pengambilan keputusan, khususnya politik. Kebebasan berekspresi juga memungkinkan masyarakat dan negara bisa saling terhubung dan terakomodasi,” kata Laila Chairy, Dosen & Praktisi Komunikasi, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin (15/11/2021).

Ia menjelaskan, saat meluapkan kebebasan ekspresi itu, baik di ruang digital atau hidup sehari-hari, ada batasan-batasan yang harus diketahui. “Batasan berekspresi di media sosial itu, antara lain, untuk memahami isu-isu sensitif yang bisa memicu perpecahan dan kegaduhan di dunia digital maupun dunia nyata,” ujarnya.

Contoh kebebasan berekspresi yang memicu kegaduhan, antara lain, isu agama, suku bangsa, ras, antar-golongan, gender dan seksualitas. Berekspresi dalam ruang digital merupakan hak setiap orang dan tidak bisa dilarang. Namun kebebasan berekspresi harus juga diimbangi dengan kehati-hatian dan tanggung jawab supaya tidak terjadi kesalahan dan pelanggaran terhadap peraturan yang ada.

“Silakan berekspresi sebebasnya, namun harus hati-hati, terutama menyangkut hal-hal yang berbau SARA dan sensitif. Itu bukan untuk menjadi bahan candaan,” jelasnya.

Tak terkecuali di masa pandemi ini. Kebebasan berekspresi semakin berpotensi menjadi isu liar tanpa dasar. Sebab, pandemi memaksa hampir setiap orang mengalihkan aktivitas di ruang digital dan justru memberi beban ganda.

Ia mengungkapkan, ada beberapa hal yang mesti dikembangkan agar bisa mengendalikan dan membatasi ekspresi itu di media digital dan juga dunia nyata. Dengan salah satunya mengembangkan sikap yang terbuka, jujur, adil, bertanggung jawab, arif dan bijaksana.

“Berpeganglah pada dasar negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam berinteraksi di ruang digital maupun di dunia nyata. Agar menjaga relasi dengan seksama,” terangnya.

Menurutnya, tiap pengguna perlu selalu bijak pada nilai-nilai leluhur dan budaya masing-masing agar tak terjebak pada kebebasan berekspresi yang tak bertanggung jawab. Karena dalam bebasnya berekspresi di ruang digital yang belum terkendali penuh itu, penting setiap orang tua dan orang dewasa menjaga aspek-aspek keamanan anak di ruang digital.

“Aspek keamanan digital itu salah satunya dari potensi perundungan atau bullying yang sering terjadi secara daring dengan memanfaatkan berbagai fasilitas pesan singkat, email hingga media sosial, dan korbannya bisa anak-anak dan dewasa,” tuturnya.

Menurut kasus penipuan secara daring dari 2019 yang sebanyak 1.617 kasus berdasar catatan Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Rinciannya: 534 kasus di Instagram, 413 kasus di WhatsApp, dan 304 kasus di Facebook.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin (15/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Widya Pramusetyo (Aktivis Teknologi Informasi), Adestya Ayu Armielia (Hotel Operations Deputy Head di Universitas Multimedia Nusantara), Ziadatul Hikmiah (Dosen Psikologi Universitas Brawijaya), dan Sukma Ningrum (Content Creator) saat menjadi Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply