hitcounter
Thursday , October 21 2021

Generasi Milenial Pengguna Aktif Media Sosial

Tidak bisa dipungkiri, pasar terbesar pengguna media sosial adalah para anak muda. Generasi millenial pada umumnya, merupakan pengguna terbesar dan paling aktif media sosial. Dari merekalah sebuah tren terbentuk dan tercipta. Salah satu tren yang sangat nge-hype, bahkan berlangsung hingga saat ini adalah penggunaan segala jenis media sosial.

Walaupun generasi muda masih mendominasi penggunaan media sosial ini, namun sebenarnya media sosial juga dapat dilirik sebagai sebuah peluang bisnis. Bahkan juga menjadi peluang strategi marketing yang cukup menjanjikan bagi para pelaku bisnis juga sektor kehidupan lain termasuk berpolitik.

Satya Yozi Saputra, Content Creator yang juga Account Executive of HASH Entertainment mengatakan, tujuan media sosial sebagai media informasi, komunikasi, eksistensi diri, jejaring sosial, komunitas serta promosi & marketing. Media sosial memang banyak memberikan kemudahan namun seringkali dianggap mengubah budaya masyarakat. Kini dikenal dengan budaya digital yakni konsep yang menyelimuti gagasan bahwa teknologi dan internet secara signifikan membentuk cara kita berinteraksi, berperilaku, berpikir, dan berkomunikasi sebagai manusia dalam lingkungan masyarakat.

“Untuk dapat membangun budaya digital dengan partisipasi masyarakat itu sendiri. Bagaimana mereka komitmen berpartisipasi memberikan kontribusi untuk tujuan bersama. Masyarakat juga mampu mengubah budaya lama menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat dan memanfaatkan hal-hal yang sudah ada sebelumnya untuk membentuk hal baru,” jelasnya dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (21/6/2021).

Satu hal lagi, media sosial kerap digunakan sebagai strategi komunikasi politik. Ini sebuah alternatif baru dan menjadi fenomena hangat hingga kini. Media sosial menjadi peningkatan demokrasi, Charta Politika menyebutkan informasi di media sosial berpengaruh terhadap responden dalam menentukan pilihannya. Saat Pemilihan Umum 2019 survei menyebut 24.4% responden mengatakan media sosial sangat berpengaruh terhadap pilihan mereka serta 37.8% mengatakan cukup berpengaruh. Maka, media sosial digunakan sebagai media kampanye para simpatisan.

“Kita sebagai warganet yang harus berhati-hati untuk menerima setiap informasi yang datang terutama saat masa politik, maka pentingnya literasi digital untuk menjadi filter saat masa itu datang kembali dan kita dapat lebih jernih untuk melihat sosok calon pemimpin,” jelasnya.

Di sisi lain media sosial mampu untuk meningkatkan toleransi. Memungkinkan akan membentuk sikap menerima perbedaan, mengubah penyeragaman menjadi keragaman, mengakui hak orang lain, menghargai eksistensi orang lain, mendukung secara antusias terhadap perbedaan budaya dan keragaman ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita bijak dalam bermedia sosial. Menciptakan ruang- ruang toleransi dalam bermedia sosial. Menggunakan media sosial dengan secukupnya dan seperlunya. Literasi digital jawabannya, memahami apa yang ada di media sosial dan dunia digital menjadi sebuah kewajiban. Sehingga bermedia sosial bukan sebebas mungkin tapi juga sangat bertanggung jawab.

Saat ini memang sudah selayaknya masyarakat berpikir lebih digital. Menyesuaikan dengan kemajuan zaman, dimulai dari lebih mengenal literasi digital. Maka, Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi menggelar Webinar Literasi Digital Nasional di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten.

Salah satunya di Kota Cirebon, Jawa Barat, Senin (21/6/2021) dengan pembicara lainnya yaitu Firman Surya (Kabid Program dan Aplikasi Informatika Relawan TIK Bangka Belitung), Sisi Suhardjo (Praktisi bidang kehumasan), Adi Syafitrah (Pemeriksa Fakta Mafindo), dan sebagai Key Opinion Leader Clarissa Darwin.

Kegiatan ini memang bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar dampak negatif penggunaan internet. Empat pilar utama dalam literasi digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

About Pasha

Check Also

Media Pembelajaran Moodle, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh

Saat pembelajaran jarak jauh dilakukan harus ada inovasi bagaimana cara para pendidik dapat memberikan materi …

Leave a Reply