hitcounter
Monday , September 20 2021

Etika Untuk Gamers di Ruang Digital

Game online kini sangat digandrungi masyarakat digital yang memang pecinta game dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan sudah menjadi dunia bagi mereka karena menemukan teman baru dengan satu hobi.

Ismail Tajiri Ketua Relawan TIK Sukabumi mengomentari fenomena tersebut, menurutnya tidak ada masalah untuk hobi bermain gameonline asal segala sesuatunya tetap ada porsinya, tidak berlebihan. Jangan terlalu terlena dengan game online hingga mengganggu aktivitas utama lainnya. Namun tidak sedikit juga yang menghasilkan dari game online, para gamers ini menjadi atlet e-sport ataupun menjadi kreator konten yakni YouTuber game.

Pemerintah pun mendukung agar game online ini menjadi suatu hal yang lebih positif di masyarakat seperti sudah melegalkan beberapa game online lalu mengadakan kompetisi e-sport. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan para gamers selain membatasi waktu yaitu etika saat bermain. Lawan main juga manusia yang harus dihormati, alangkah lebih baiknya orang dewasa dapat memberi contoh karena di dunia game online juga banyak anak-anak.

“Jangan pernah ketika berkomunikasi di dunia digital melalui game online mengeluarkan kata-kata yang diskriminatif atau rasis. Apalagi jika kita ingin lebih serius untuk mendalami e-sport mengikuti event-event atau kompetisi game online,” ungkapnya di Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital di wilayah Kabupaten Sukabumi Jawa Barat Rabu (8/9/2021).

Kemudian dalam setiap permainan kita dituntut untuk tidak curang atau sportif. Begitu juga saat melakukan permainan di game online. Ismail membenarkan, jika memang ada beberapa trik yang hanya para gamers tahu atau mereka sebut nge-cheat. Itu sebaiknya tidak digunakan, walaupun kita paham bagaimana caranya. Sebab akan melunturkan sportivitas dan juga membuat orang lain menjadi tidak nyaman.

Dalam game online juga para gamers dapat mengobrol jangan sampai malah melakukan spam chat yang mengganggu. Bahasa perlu diperhatikan jangan berkata kasar sebab kita tidak pernah tahu lawan bicara kita itu lebih dewasa yang bisa saja tersinggung. Atau juga anak-anak yang akan mengikuti perkataan kita. Tetap beretika sebagaimana kita di kehidupan nyata seperti ucapkan maaf dan terima kasih dan tidak menyinggung.

“Meskipun terkesan game online itu bukan hal yang serius namun alangkah lebih baiknya jika etika ini tetap harus dijalankan di dalam ruang digital agar kita dapat menciptakan ruang-ruang yang nyaman bagi semua pihak,” ungkapnya.

Ismail berharap, karena kita tidak memiliki etika dalam bersosialisasi di ruang digital khususnya game online malah memicu keributan juga konflik, seharusnya game sebuah hiburan malah menjadi masalah.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Allana Abdullah (Pengusaha Online), Eko Prasetyo (Pakar Teknologi Informasi), Andhika Zakiy (Program Director Sejiwa), dan dr. Maichel Kainawa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply