hitcounter
Sunday , September 19 2021

Etika Digital sebagai Pembatas di Media Sosial

Ruang digital sering diartikan sebagai ruang bebas di mana setiap orang bisa melakukan apapun sesuai kehendaknya. Akan tetapi, ruang bebas ini sebenarnya tetap memiliki batasan sesuai etika.

“Ketika kita bermain media sosial ada pembatas yaitu etika digital UU ITE terkait dengan semua yang ada di dunia digital,” ujar Winto Heryana, Relawan TIK Indonesia saat berbicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021) pagi.

Winto mengatakan, terdapat delapan etika digital yang perlu diterapkan di media sosial. Pertama, tidak menyebarkan informasi pribadi ke publik. Informasi pribadi penting di lindung karena jika tersebar bisa digunakan untuk hal negatif, termasuk kejahatan. Kedua, menggunakan etika atau norma saat berinteraksi dengan siapapun di media sosial. Etika berinteraksi di dunia digital ini tidak jauh berbeda di dunia nyata.

Lanjutnya, ketiga yakni berhati-hati dengan akun tidak dikenal. Keempat, memastikan unggahan di akun media sosial tidak mengandung unsur SARA. Kelima, memanfaatkan media sosial untuk membangun jaringan atau relasi.

Selain itu, saat mengunggah informasi pastikan untuk selalu mencantumkan sumber asli konten dan jangan mengunggah informasi yang belum jelas sumbernya. Lalu, manfaatkanlah media sosial untuk menunjang proses pengembangan diri.

“Tidak cuma etika, kesopanan itu wajib atau harus dipertahankan di dunia digital. Karena kita juga terkenal dengan budaya sopan ketimuran,” tuturnya.

Dalam hal ini, kesopanan dalam dunia maya dapat diartikan kesopanan di dunia online, baik itu saat memposting sesuatu, berinteraksi sesama pengguna, hingga aktivitas praktis seperti jual beli online.

Saat menggunakan kesopanan, kita perlu memperhatikan tipe media sosial yang digunakan. Ia menjelaskan, media sosial terdiri dari dua tipe, yakni interaktif dan personal. Media interatif seperti Instagram, Tiktok, Twitter, Facebook, dan semacamnya. Sementara, media sosial dengan tipe personal seperti WhatsApp, Telegram, dan Line.

Ketika kita berinteraksi dengan seseorang yang sudah dikenal atau belum di dunia maya. Sebaiknya gunakan salam. Agar tidak keliru, kita bisa menggunakan salam universal. Kemudian, pahami konteks saat berinteraksi, yaitu kepada siapa komentar itu ditujukan, apa tujuan komentar kita, dan pandai membaca situasi berkomentar. Kita harus menanamkan prinsip berkomentar seperlunya jangan menghakimi semaunya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Rabu (8/9/2021) juga menghadirkan pembicara Lim Sau Liang (Owner Madame Lim), Agus Sutisna (Kepala Kementerian Agama Kabupaten Subang), Muhammad Miftahun Nadzir (Dosen Entrepreneurship Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), dan Kila Shafia sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply