hitcounter
Sunday , June 23 2024

Etika di Ruang Digital Saling Terhubung dengan Dunia Nyata

Sebagai penghuni dunia digital sebenarnya kita sudah memiliki etika, seperti halnya di kehidupan sehari-hari. Beberapa hal yang harus kita sadari itu merupakan sebuah etika yang terkadang terlewat diperhatikan seperti hak cipta.

Ide atau pendapat yang dituliskan di status media sosial atau blog sesungguhnya memiliki hak cipta. Begitu juga dengan gambar, video apapun yang berasal dari kreasi manusia itu merupakan milik orang tersebut sehingga jika kita ingin menggunakannya kembali tentu harus meminta izin kepada yang punya.

Ni Made Ras Amanda, dosen Universitas Udayana yang juga anggota Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) menjelaskan, di berbagai platform media sosial sudah ada fitur untuk membagikan tanpa menghilangkan sumber karya tersebut seperti retweet dan bagikan. Begitu juga video di YouTube dapat ketahuan jika video yang kita unggah di YouTube itu bukan milik kita. Video kita akan di-banned, sementara gambar yang memang di website kumpulan foto ya memang gratis itu sangat diperbolehkan untuk diunggah dan dijadikan foto latar belakang dan lainnya.

“Etika lainnya adalah bagaimana kita berkomunikasi di ruang digital yang terkadang tidak ada hubungannya dengan dunia maya padahal lawan bicara kita merupakan orang yang sama juga ada di dunia nyata. Sehingga kerap kali saling ejek di media sosial malah berakhir dengan berkelahi di dunia nyata banyak juga yang tersinggung akibat status malah beneran duel di dunia nyata,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (21/7/2021).

Hal itu sebagai bukti dunia nyata dan dunia maya ini saling berhubungan maka dari itu apa yang di lakukan di dunia nyata seharusnya juga dilakukan di dunia digital.

Masyarakat Indonesia terbiasa sopan santun memiliki adab yang baik saat berbicara itu dapat kita aplikasikan di dunia digital saat sedang bermedia sosial. Etika lainnnya hendaknya kita berkomentar positif bahkan cenderung untuk mendukung setiap karya yang ada.

“Jangan sampai kita tidak suka dengan karya seseorang malah berkomentar menjatuhkan bahkan secara personal,” ucapnya.

Kita juga dituntut untuk berpartisipasi untuk membuat kenyamanan digital yakni dengan melaporkan akun akun yang sering memprovokasi dan berpotensi untuk memecah belah.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenkomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (21/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Taufik Aulia (content creator dan penulis), Dudi Rustandi (RTIK Indonesia), Anita Wahid (Siberkreasi) dan Nattaya Laksita Melati sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Mau Liburan Pendek buat Refreshing? Staycation Aja!

Jakarta, Vakansi – Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, penting untuk mengambil waktu liburan sejenak …

Leave a Reply