hitcounter
Thursday , August 5 2021

Etika di Dunia Digital itu Penting

Etika secara umum itu sulit walau sebenarnya mudah dipahami bentuknya pun tertulis maupun tidak tertulis namun lebih sering tidak tertulis. Misalnya di dunia fisik ketika kita berpapasan dengan orang lain kita pasti menganggukan kepala, senyum bahkan menyapa.

Saat ada tamu di rumah, seringkali anggota keluarga harus berkumpul untuk salam kepada tamu. Tidak ada aturan tertulis seperti itu namun seperti sebuah kebiasaan kita akan melakukan hal tersebut. Seperti sebuah aturan turun temurun yang tanpa ditulis sudah dapat kita lakukan.

Praktisi media sosial yang juga Koordinator Gerakan #BijakBersosmed, Ennda Nasution dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021) mengatakan pelanggaran etik tidak memiliki ancaman hukuman namun ada sanksi sosial. Etika ini juga bukan sesuatu yang fix atau baku. Begitu juga saat kita berada di dunia digital.

Media sosial hadir sekitar 15 tahun terakhir, dan beberapa orang menggunakan media sosial baru beberapa waktu terakhirnya. Tidak ada yang mengajari etika ini, walaupun sebenarnya setiap platform membuat aturan tertulis bagaimana cara berinteraksi dengan pengguna lain.

“Namun jarang ada yang mau membacanya, mata para warga net biasanya hanya mengikuti orang lain saja dalam beretika digital,” ungkapnya.

Etika di dunia maya juga tidak ada aturan baku. Enda mencontohkan, di momen Idul Fitri banyak orang mengirimkan ucapan dalam bentuk foto keluarga lengkap dengan kata-kata di dalamnya. Pengiriman dilakukan melalui WhatsApp tanpa ada salam atau ucapan lainnya.

“Hanya blast kirim foto, tanpa ditunjukan untuk siapa. Apakah itu beretika, makin ke sini saya rasa makin diterima ucapan seperti itu. Alasannya mungkin karena keterbatasan waktu yang dimiliki jadi ucapan hari raya hanya dilakukan dengan cara tersebut,” jelasnya.

Enda menambahkan, itu pilihan masing-masing apakah menerima atau tidak ucapan seperti itu. “Kalau saya hanya membalas ucapan jika orang itu memang menyebut nama saya. Mungkin, setelahnya akan ada percakapan langsung untuk menyambung silaturahmi,” tuturnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Arnidah (Ketua Mafindo Makassar), Ginna Destiana (Relawan TIK Jawa Barat), Asep Kambali (Founder Historia Indonesia) dan Btari Sekar Ayu sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply