hitcounter
Saturday , July 13 2024

Etika dan Budaya Pondasi Interaksi Sosial di Internet

Pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 170 juta, survey dari Hoot Suit di tahun 2021 menyebutkan Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata warganya yang menghabiskan 3 jam 14 menit untuk sosial media, jumlah pengguna sosial media setara 61,8% dari total populasi penduduk.

Fakta pengguna internet yang meningkat tentunya menjadi hal positif perkembangan masyarakat yang sudah melek digital. Namun nilai etika dan budaya yang telah mengakar menjadi hilang saat di ruang digital. Apalagi dari survey Microsoft netizen Indonesia mendapat predikat paling tidak sopan se-Asia Tenggara yang sebagian besar penilaian akibat penipuan digital, hoaks, ujaran kebencian.

Ari Budi Wibowo, Kepala Bidang Kemitraan SiberKreasi mengatakan, partisipasi dan kolaborasi aktif masyarakat di dunia digital perlu menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tungga Ika. Yaitu nilai pancasila seperti cinta kasih, kesetaraan, harmoni dari keragaman, serta nilai demokratis dan gotong royong.

“Kita sadari bahwa Indonesia Negara majemuk, multikultural, bahasa daerah beragam sekali ada 716, artinya ini adalah indicator kecakapan budaya digital culture harus menyadari bahwa kita di era digital, Indikator pertama dari kecakapan BhinekaTunggaI ka di ruang digital perlu dipahami,” kata Ari  saat Webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat I, KabupatenBekasi, Kamis (14/10/2021).

Lebih jauh dia mengatakan, nilai kesetaraan di ruang digital jelas dibutuhkan berlandaskan Pancasila, sehingga jelas bahwa ujaran kebencian, pengucilan, perundungan sangat berlawanan dengan kesetaraan.

“Kita boleh mengkritik tapi bukan untuk polarisasi perpecahan, karena kita sangat multikulturalis,” katanyalagi.

Nilai demokratis dalam Pancasila juga menjamin kebebasan berekspresi, karena itu jika terjadi perbedaan pandangan maka dapat dibuka ruang diskusi. Demokrasidiungkapkan Ari juga tidak bias semaunya, harus ada kesadaran dalam mengakses dan mengelaborasi informasi publik. Sehingga diperlukan ruang diskusi yang sehat untuk membangun pemahaman bersama.

Ari mengungkapkan, menjadi warga digital yang pancasilais bias dilakukan dengan berpikir kritis, gotong royong kolaborasi kampanye literasi digital. Mendukung toleransi keberagaman, memprioritaskan cara demokrasi, mengutamakan Indonesia. Warga digital harus bias menjadikan ruang digital sebagai praktik berbudaya melalui aktivitas sehari-hari.

“Sebarkan konten positif, inspiratif, edukatif, informatif, produktif dan menghibur. Jangan lupa jejak digital akan terekam,” tuturnyalagi.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula narasumber seperti Pipit Djatma,  Fundraiser Consultant &Psychosocial activist IBU Foundation, Indra Brasco, seorang Dadpreneur, Andry Hamida, Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning, dan Michiko Utoyo, seorang Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

MediaTek Berfokus pada AI untuk Kembangkan Teknologi Masa Depan

Jakarta, Vakansi – MediaTek mengungkapkan telah menjadi vendor cipset selular No. 1 dunia selama hampir …

Leave a Reply