hitcounter
Monday , September 20 2021

Etika Berinternet, Cara Adaptif Masyarakat Bermedia Sosial

Survei We Are Social tahun 2021 menyebutkan sebanyak 174,5 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet. Dari total 272,1 juta keseluruhan penduduk, di antaranya 160 juta menggunakan media sosial. Dari zaman internet ini kita juga menemukan ada banyak platform yang muncul untuk edukasi, entertaiment seperti musik dan film. Telah terjadi perubahan interaksi sosial yang nyata, di mana saat pandemi semuanya untuk meeting yang tidak bisa offline kini melalui ruang virtual.

“Pandemi dan keberadaan teknologi ini merupakan salah satu transformasi digital Indonesia yang mengalami percepatan akselerasi, sehingga merevolusi cara masyarakat berinteraksi sosial,” kata Dee Rahma, seorang Digital Marketing Specialist yang menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat I, pada Senin (6/9/2021).

Fenomena revolusi masif yang menyebabkan perubahan interaksi sosial juga terjadi pada dunia pendidikan di mana internet juga digunakan untuk belajar online baik sekolah, kuliah, dan kursus. Bekerja pun saat ini dilakukan secara remote dan tidak wajib setiap hari pergi ke kantor. Dengan begitu wifi pun sudah menjadi kebutuhan pokok, karena masyarakat ketika di rumah sudah belanja melalui cara online, memakai e-banking, e-money, juga interaksi sosial secara virtual dan telemedicine.

Segala perubahan yang terjadi ini, perlu adanya perubahan mindset di masyarakat untuk menyambut sekaligus adaptif terhadap budaya digital. Informasi yang semakin terbuka membuat setiap orang harus menyaring segala sesuatunya sebelum menyebarkan. Rajin adaptasi menambah skill  baru sesuai kebutuhan industri era digital dan berfikir lebih kritis terhadap apa yang bisa dilakukan agar lebih produktif dengan adanya budaya digital baru tersebut.

Diperlukan netiket, singkatan dari network etiquette yaitu etika komunikasi media sosial agar tercipta ruang digital sehat. Antara lain dengan menggunakan media sosial untuk berbagi ilmu dan keahlian lewat konten-konten yang positif, serta berpikir dulu sebelum komentar, serta tidak memaki dan provokatif. Menghormati waktu orang lain, serta sampaikan fakta tanpa unsur SARA, kekerasan dan pornografi. Gunakan bahasa sopan dan tidak bertele-tele dengan perhatikan tanda baca dan huruf kapital.

“Jangan buru-buru share sebelum mengecek validasi informasi yang diperoleh, serta kenali batas privasi diri dan hargai privasi orang lain,” tutur Dee.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Shandy Susanto, Dosen di Podomoro Universitity, Whisnu Bekker, head of digital marketing Paragon Pictures, dan Anna Agustin, Managing Partner di Indonesia Global Lawfirm.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply