hitcounter
Monday , September 20 2021

Era Digital dan Society 5.0

Sekarang kita berada di era digital, kita harus paham apa itu quantum computing, cloud computing, Artificial Intelegence (AI), Internet of Thing dan era big data. Era data yang besar, banyak data direkam kemudian dimanfaatkan untuk marketing. Misalnya kita menggunakan media sosial tertentu kemudian ada iklan, dipastikan itu adalah yang sesuai tingkah laku kita. Sebenarnya tingkah laku kita direkam kemudian media sosial media yang kita akses itu mengirimkan iklan.

Internet of Thing (IoT) kini mengisi seluruh perangkat yang membuat mereka terhubung, entah itu device ke device atau device ke website.  Dampaknya ke berbagai lini seperti kesehatan, pendidikan, industri. Nantinya pasien dan dokter memeriksa dari jauh menggunakan sensor. Ada AI yang membuat perangkat sepintar manusia, meniru perilaki manusia hingga melakukan riset.

Haodudin Nurkifli, dosen Universitas Singaper Bangsa Karawang memaparkan soal industri 4.0 era yang sedang kita jalani saat ini, semua perangkat saling terhubung tanpa intervensi manusia secara langsung. Bagaimana kemudian itu muncul tahun 2019 menginisiasi masyarakat 5.0 yakni mereka yang memanfaatkan teknologi, menyelesaikan masalah dengan teknologi yang kemudian berkembang.

“Ada manusia yang mengembangkan teknologi, juga ada manusia yang memanfaatkan teknologi secara maksimal sehingga ini menyelesaikan masalah. Ini yang disebut society 5.0,” jelasnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021) siang.

Kita dapat memanfaatkan teknologi yang ada sekarang ini karena dalam society 5.0 ini fokus pada manusianya yang mampu memanfaatkan dan mengembangkan teknologi. Implikasinya adanya perubahan model pada komunikasi, pendidikan pasar dan lainnya.

“Dulu berkomunikasi langsung, atau hanya suara saja, tapi sekarang sudah dapat melihat secara langsung, bertatap muka meskipun dari jarak jauh. Di kesehatan pasien menggunakan body sensor network untuk mengecek kadar gula, tekanan darah yang terhubung melalui internet dan device milik tenaga kesehatan, rumah sakit bahkan keluarga sehingga bila terjadi apaapun dapatlangsung melaporkan ke dokter. Dokter dapat langsung melakukan tindakan” tuturnya.

Komponen utamanya sebenarnya adalah internet, device, ada software yang terinstall di device. Manusia yang mengoperasikan juga penting, tidak asal mereka yang mampu mengoperasikan perangkat namun juga memiliki skill digital agar mampu memanfaatkan setiap peluang di ruang digital. Selain kemampuan yang dibutuhkan operatornya ini ialah bagaimana manusianya memiliki etika saat berada di dunia digital. Etika dalam berkomentar, menghasilkan karya juga etika digital lainnya. Itulah society 5.0 yang sesungguhnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021) siang juga menghadirkan pembicara Ginna Desiana (Founder dolananyuk.id), Al Akbar Rahmadillah (Founder Sobat Cyber Indonesia), Fikri Mohammad Hakim (Senior Manager Safety), dan Gabriela Citra sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply