hitcounter
Monday , September 20 2021

Digitalisasi Tetap Menerapkan Tata Krama dalam Interaksi Manusia

Perkembangan teknologi dan penggunaan internet, tak serta merta menghilangkan norma dan etika saat berinteraksi dengan individu maupun kelompok masyatakat. Etika berkomunikasi tetap diperlukan untuk interaksi di ruang digital yang mengatur sistem legal dan moral bagaimana hal tersebut memengaruhi individu maupun masyarakat.

“Sejatinya tidak terlalu banyak perbedaan etika di dalam dunia nyata dan di dalam dunia digital. Secara langsung kehidupan digital sudah jauh lebih akrab dengan kita,” sebut Nikita Dompas, Producer & Music Director yang menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, pada Senin, (16/8/2021).

Baru-baru ini survei Microsoft Digital Civility Index 2021 menyebutkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Meningkatnya skor ketidaksopanan pada orang dewasa di Indonesia utamanya dipicu oleh peningkatan hoaks dan penipuan.

“Kecenderungan orang dewasa yang berperilaku buruk di internet, berkaitan dengan rendahnya tingkat literasi mereka,” kata Nikita.

Lembaga analisis Katadata Insight Center (KIC) dalam survei di tahun 2020 bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengatakan bahwa Gen X (usia 40-55) secara umum memiliki literasi digital yang lebih buruk dari kelompok remaja dan milenial muda. Hal tersebut kemudian diperparah ketika mereka menggunakan media sosial percakapan terutama Whatsapp untuk menyebarkan berita dan informasi.

Menurut pakar media sosial Ismail Fahmi, penyebab orang Indonesia lebih berani di media sosial adalah karena dunia maya dan nyata masih dianggap dua hal yang berbeda. Kebanyakan orang Indonesia merasa sungkan saat bertatap muka secar langsung, termasuk sungkan menyatakan pendapat. Namun di media sosial jika ada sesuatu yang memunculkan rasa ketidaksetujuan mereka lebih bebas mengutarakan. Padahal saat sedang online seperti halnya di dunia nyata, setiap orang tetap harus saling menghormati saat berinteraksi tak jauh bedanya di dunia nyata.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Pringgo Aryo, seorang Producer & Komposer Music, Sonny Tirta, Consellor di Universitas Multimedia Nusantara, dan Diena Haryana, Founder SEJIWA Foundation.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply