hitcounter
Sunday , September 19 2021

Demokrasi dalam Budaya Digital

Sebanyak 170 juta orang di seluruh Indonesia aktif menggunakan teknologi digital untuk kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakan untuk hubungan pribadi atau komunikasi, budaya, pekerjaan, penelitian dan hiburan.

Budaya digital berkembang dari ‘bagus untuk dimiliki’ atau hanya tren menjadi ‘harus dimiliki’ dan keterampilan dalam budaya digital tidak lagi dianggap sebagai Niche competence (untuk tertentu) tapi kini dapat dipelajari oleh siapapun.

Budaya digital di kehidupan masyarakat Indonesia saat ini sudah masuk dalam semua sektor kehidupan. Keuangan atau banking memakai e-wallet, mobile banking, pinjaman juga sudah online.

Bersosialisasi di ruang digital dengan media sosial ada Facebook, Instagram, Tiktok, Twitter bukan hanya untuk berjejaring tapi juga untuk berorganisasi berkumpul bahkan menambah penghasilan. Hiburan, YouTube, streaming movie, virtual konser atau event bukan hanya untuk hiburan semata tetapi dimanfaatkan juga mencari penghasilan bahkan belajar.

Perniagaan online sudah banyak marketplace lokal dan luar negeri Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada dan lainnya untuk membeli dan menjual dengan lebih mudah. Logistik dan transport Go-jek, Grab, Lalamove, Paxel, berpegian, mengirim barang mengirim paket semua tidak lagi menunggu hari tapi sudah nunggu jam atau di hari yang sama. Digital sudah masuk pendidikan ada kelas online ada ruang guru jadi di kamar, anak-anak pun mereka sudah ada guru banyak guru bahkan bisa dari seluruh dunia.

Chairi Ibrahim, konsultan marketing komunikasi mengatakan, dalam berbudaya digital juga apalagi di Indonesia harus memiliki demokrasi. Ada empat hal demokrasi dalam berbudaya digital yaitu akses ke dunia digital.

“Masyarakat Indonesia harus bersyukur, sekarang sangat lebih mudah mengakses dibanding 5 – 10 tahun yang lalu. Bahkan sekarang bukan hanya kota-kota besar saja yang sudah dapat masuk dunia digital tetapi daerah-daerah terpencil walaupun belum semua tapi sudah lebih banyak. Ada istilahnya internet masuk desa,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerajan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021).

Kedua, kebebasan berekspresi, bagaimana di kehidupan luar jaringan pun kita memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat, untuk berekspresi untuk berkumpul begitu juga dengan di dunia digital. Di dalam jaringan ini pun dapat mengeluarkan pendapat memberi saran, memberi kritik namun tentu dengan bahasa yang baik bahasa yang sopan dan tetap memberikan kritik yang membangun lalu. Kemudian bagaimana keamanan digital ini penting terutama privacy.

“Bagaimana pengguna media digital bebas memiliki media sosial, berhak menceritakan apapun namun tetap kita harus memiliki privasi sendiri untuk melindungi orang-orang yang ada disekitar kita. Jangan terlalu terbuka khawatir nanti ada orang yang jahat bisa menggunakan celah itu. Jangan lupa juga untuk melindungi privasi orang lain,” tuturnya.

Dalam budaya demokrasi ada hak kekayaan intelektual, di dunia luar jaringan maupun di dalam jaringan bagaimana karya seorang itu harus kita hargai. Terlebih di dunia digital, sangat mudah kita untuk mengikuti tulisan walaupun hanya di status saja alangkah lebih baik mencantumkan penulis asli.

Tidak masalah untuk berbagi karya orang lain tapi jangan lupa untuk sebutkan sumbernya. Kita juga memiliki hak kekayaan intelektual yang harus kita lindungi jangan sampai karya kita pun dimiliki atau digunakan oleh orang lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) juga menghadirkan pembicara Michael Syukrie (Videografer Underwater), Arya Shani Pradana (Founder Tekape), Ginna Desiana (Founder dolananyuk.id), dan Desi Ken Wardani sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply