hitcounter
Wednesday , October 20 2021

Cara Menyaring Hoaks di Dunia Digital

Berita bohong saat ini layaknya makanan sehari-hari dan dianggap biasa. Akan tetapi, efek dari hoaks sangat luas, terutama bagi mereka yang tidak memahami literasi digital.

Memfliter berita bohong sendiri dilakukan sebagai sebuah langkah antisipasi agar saat mendapat informasi baru kita bisa mengetahui apakah itu benar atau tidak. Hoaks adalah berita bohong atau informasi sesat yang sengaja dibuat agar terlihat benar dan umumnya memainkan emosi masyarakat.

“Semua hal yang berhubungan dengan internet membuat informasi tersebar dengan cepat. Bahkan ada informasi yang membingungkan. Masyarakat yang tidak cermat akan menelan mentah-mentah berita tersebut,” ujar Didit Aditya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Hubin dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa (5/10/2021).

Informasi yang begitu cepat berdampak pada cara masing-masing individu mencernanya. Menurut Didit, kebanyakan individu tidak membaca suatu informasi dari sumber yang kredibel secara keseluruhan.

Biasanya, hoaks didistribusikan melalui media sosial karena efeknya besar, berisi pesan yang membuat cemas dan panik pembacanya, dan diakhiri oleh permintaan untuk diviralkan. Orang dengan mudahnya menyebarkan hoaks karena tidak mengetahui bahwa itu berita bohong, kemampuan literasi yang rendah, malas membaca, tidak cermat dengan sumber berita, dan ingin menjadi orang yang paling update dengan berita.

Dampak dari hoaks tentu negatif karena memicu perpecahan, menurunkan reputasi pihak yang dirugikan, menyita waktu, dan berpotensi menjadikan fakta itu sendiri tidak dapat dipercaya.

“Ketika ada informasi terbaru, kita harus bertanya kepada pemberi informasi tentang sumbernya,” tutur Didit.

Di samping itu, mencari informasi pada website sebagai langkah dalam memfilter hoaks. Kemudian, membandingkan informasi serupa dari berbagai sumber, memeriksa identitas penyebar informasi, dan pahami informasi untuk menentukan tingkat kepentingannya.

Selain itu, hoaks biasanya memiliki judul yang provokatif, situs tidak jelas, dan perlu diperiksa keaslian fotonya. Setiap berita yang ingin disebarkan harus melewati berbagai pertimbangan, seperti kebenaran, manfaatnya bagi orang lain, dan tingkat kepentingannya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Selasa (5/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Reza Hidayat (CEO Oreima Films), Abdul Muhyi (Kepala Sekolah SMK Auto Matsuda), Ragel Trisudarmo (Dosen/Universitas Kuningan), dan Riri Damayanti (KOL).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Melihat Peluang Berjualan di Marketplace

Geliat UMKM di Indonesia dengan datangnya pandemi Covid-19 untuk masuk ke marketplace meningkat. Sebanyak 15,3juta …

Leave a Reply