hitcounter
Thursday , January 27 2022

Budaya Toleransi Harus Jadi Prinsip Warga Digital di Tengah Kemajemukan

Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki keanekaragaman suku bangsa, agama, etnis, dan dipersatukan dengan falsafah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga sikap toleransi dan menghargai yang tertuang dalam nilai-nilai dasar bangsa harus jadi landasan di dunia internet, bukan hanya di kehidupan nyata saja.

Pipit Djatma, Fundraiser Consultant & Psychososial Actvist IBU Foundation mengatakan, di dunia maya setiap orang tetap berhubungan dengan manusia sehingga tetap harus menerapkan etika digital.

“Perubahan interaksi sosial ke ruang digital seharusnya tidak mengubah tatanan budaya serta nilai bermasyarakat,” kata Pipit saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Kamis (2/12/2021).

Lebih jauh dia mengungkapkan, keberagaman yang ada di Nusantara dengan segala macam informasi di internet bisa memberi dampak negatif. Hal tersebut terjadi jika individunya tidak bisa menyaring dan memahami nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural atau beragam.

Saat ini dengan berkembangnya jumlah pengguna internet dan media sosial, tindakan kejahatan, penipuan, terorisme, eksploitasi anak online sampai penyebaran ujaran kebencian yang berpotensi SARA juga makin rawan terjadi. Sementara motif orang melakukan ujaran kebencian pun dapat muncul karena faktor di dalam diri seperti tidak bisa menanggapi dengan baik perbedaan pendapat. Adapun faktor dari luar diri biasanya terpengaruh dari pertemanan dan komunitas.

Masyarakat pengguna perlu memahami konsep negara Indonesia yang multikultural dengan keragamannya dari suku bangsa serta agama. Toleransi serta menghargai perbedaan harus dipahami karena meskipun tampak tidak memiliki terbatas, pengguna tetap harus memiki etika berinternet karena telah diatur dalam undang-undang.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Dee Rahma, seorang Digital Marketing Strategist, Asep H. Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS, dan Inge Indriani, Founder Bumbukatjangkoe.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

MediaTek Tunjukkan Teknologi Wi-Fi 7 di Dunia kepada Pelanggan dan Pemimpin Industri

MediaTek mengumumkan demo langsung pertama teknologi Wi-Fi 7 di dunia, menyoroti kemampuan portofolio konektivitas Wi-Fi …

Leave a Reply