hitcounter
Sunday , November 28 2021

Budaya Digital Bisa Cegah Kejahatan

Berbicara mengenai budaya, orang dewasa saat ini tentu berbeda dengan generasi sekarang yang sejak kecil sudah akrab dengan gawai. Terlebih sejak pandemi hampir dua tahun belakangan, di mana penetrasi pengguna internet meningkat signifikan.

“Budaya digital ini sangat kuat sejak pandemi, karena kita tidak bisa terhubung secara langsung. Budaya digital bahkan sangat kuat dan melekat bahkan ke kita yang usia produktif,” kata Rita Pranawati, Wakil Ketua KPAI saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Selasa (16/11/2021).

Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2019 hingga 2020 sebanyak 73,7 persen masyarakat Indonesia yang sudah terhubung internet. Hal tersebut menjadi bagian yang tidak mudah karena digitalisasi, penggunaan internet sendiri ada sisi positif dan negatif. Setiap pengguna harus mendorong aspek terkoneksi dengan gawai menjadi hal positif dan mencegah hal yang bersifat negatif.

Sosial media menjadi budaya, What’sApp, YouTube, Facebook, Instargam menjadi platform media yang sering digunakan. Dengan terhubung ke internet pengguna bisa dengan mudah mendapatkan sumber informasi, sumber belajar, dan mencari inspirasi hingga hiburan. Namun, hal yang tidak mudah ketika menyebarkan informasi karena berarti seseorang telah menyebarkannya secara luas dan ada jejak digital yang tidak bisa hilang.

Sehingga setiap orang perlu menyadari antara dunia maya dan dunia nyata, di dunia maya ada informasi yang bisa saja ternyata hoaks. Sementara identitas orang di dunia maya bisa jadi anonim karena setiap orang bisa menjadi siapa pun dan disinilah diperlukan kewaspadaan dan kehati-hatian, serta bijak saat berada di ruang digital agar tidak menjadi korban kejahatan.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Triantono, Dosen Universitas Tidar Magelang, Romo Chrisantus, Ketua KKPPMP Keuskupan Pangkalpinang, Ninik Rahayu, Tenaga Profesional Lemhamnas RI 2021, dan Tabitha Purba, seorang Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply