hitcounter
Thursday , October 21 2021

Budaya Digital Bangun Wawasan Kebangsaan

Budaya bermedia digital adalah kemampuan individu dalam membaca, menguraikan membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu diungkapkan, Dorien Kartikawangi, Mafindo, Unika Atma Jaya, dalam sesi Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung, Jumat (11/6/2021).

“Tantangan budaya bermedia digital, seperti mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, menghilangnya budaya Indonesia, media digital menjadi panggung budaya asing, dominasi nilai dan produk budaya asing, berkurangnya toleransi dan penghargaan pada perbedaan, menghilangnya batas-batas privasi, dan pelanggaran hak cipta dan karya intelektual. Ada baiknya menghadapinya dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital,” paparnya.

Lanjut dia, dampak rendah pemahaman budaya bermedia digital, tidak mampu memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada segregasi sosial (perpecahan/polarisasi) di ruang digital, tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital, dan tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

“Untuk itu, dunia digital adalah dunia kita sekarang ini. Mari mengisinya dan menjadikannya sebagai ruang yang berbudaya, tempat kita belajar dan berinteraksi, tempat anak-anak kita bertumbuh kembang, sekaligus tempat di mana kita sebagai bangsa, hadir dengan bermartabat,” ujarnya.

Muh NurFajar Muharom, Relawan TIK Indonesia, Diksi Kreasi, mengungkapkan, nilai budaya juga harus diterapkan meski di dunia digital. Dunia digital dan nyata sebenarnya tidak jauh berbeda karenanya dibutuhkan kecakapan.

“Untuk itu masyarakat diperlukan adaptasi yang cepat dari offline ke online dengan meningkatkan skill dalam berdigital, sehingga tidak kaget dengan perubahaan. Di Indonesia banyak contoh kasut masyarakat kaget akan perubahan itu, seperti banyak kasus orang membeli barang di e-commerce dengan melakukan pembayaran secara cash on delivery, namun tidak mau membayar,” paparnya.

Lanjut Fajar, hal itu menunjukan FOMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, dalam bahasa Indonesia istilah ini biasa digunakan untuk menyebut pola perilaku anak muda yang selalu merasa khawatir berlebihan dan merasakan ketakutan akan tertinggal tren yang sedang berjalan.

JOMO adalah kebalikan dari FOMO, singkatan JOMO sendiri adalah Joy of Missing Out atau bisa diartikan sebagai perasaan tidak peduli karena tidak melakukan atau mengikuti tren tertentu.

Nilai-nilai dari Pancasila pun bisa diterapkan di budaya dunia digital. Sila pertama memiliki nilai cinta kasih, saling menghormati perbedaan kepercayaan di ruang digital. Sila kedua nilai utamanya kesetaraan memperlakukan orang lain dengan adil dan manusiawi di ruang digital. Sila ketiga nilai utamanya harmoni, mengutamakan kepentingan Indonesia di atas pribadi atau golongan. Sila keempat mengutamakan demokratis, memberi kesempatan setiap orang bebas berekspressi dan berpendapat di ruang digital. Sila kelima memberi nilai gotong royong, bersama-sama membangun ruang digital aman dan etis.

“Berbekal pengetahuan budaya digital ini kita bisa bikin konten apa saja dengan ide dan bakat yang kita punya. Karena ruang digital meski dapat bergerak bebas tapi juga bisa berbahaya. Karenanya ada beberapa batasan yang harus kita ketahui untuk berlayar di dalamnya. Peretasan identitas bisa merugikan citra, jejak digital atau bahkan keuangan kita,” katanya.

Webinar Literasi Digital Nasional 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi, ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Istia Budi yang membawa tema internet, media sosial dan literasi digital, dan Adi Syafitrah dengan materi presentasi hoaks dan antisipasinya.

Gerakan Literasi Digital Nasional 2021 merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

About Pasha

Check Also

Media Pembelajaran Moodle, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh

Saat pembelajaran jarak jauh dilakukan harus ada inovasi bagaimana cara para pendidik dapat memberikan materi …

Leave a Reply