hitcounter
Thursday , August 5 2021

Bijak Bermedia Sosial di Ruang Digital

Pengguna internet rata-rata banyak menghabiskan waktu untuk menggunakan media sosialnya. Beragam latar belakang dari masing-masing pengguna media sosial membuat kita harus memiliki sikap toleransi antarsesama. Toleransi dan demokrasi sendiri merupakan sesuatu yang mudah disatukan namun mudah juga dipecahkan.

Paparan dari Steve Pattinama, Konten Kreator, menyatakan media sosial merupakan sebuah media daring yang digunakan satu sama lain antarpengguna untuk berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi ruang dan waktu.

“Maka dari itu, kita harus hati-hati dalam memposting sesuatu. Karena orang masih bisa lihat apa yang kita posting 3 tahun lalu. Hati-hati kalau kita ingin menyebarkan sesuatu di media sosial,” ujar Steve, saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (7/7/2021).

Media sosial cukup besar dan dikenal di Indonesia. Hal tersebut berdasarkan data dari APJII bahwa saat ini pengguna aktif media sosial yang merupakan penduduk Indonesia berjumlah 170 juta jiwa. Tandanya, sebesar 60% seluruh penduduk Indonesia telah mengetahui apa itu media sosial. Dengan 5 media sosial teratas, yaitu Youtube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Twitter.

Steve menyampaikan, di sini ditunjukkan media sosial berpengaruh besar terhadap kehidupan kita. Melalui media sosial, kita dapat mengakses informasi yang kita butuhkan. Contoh besarnya dampak media sosial bagi kehidupan kita dapat terlihat banyak orang yang mencari keluarga yang hilang dan sudah lama berpisah lalu bertemu di media sosial.

“Media sosial sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk memperkuat demokrasi dan toleransi. Demokrasi pada dasarnya merupakan sistem pemerintahan di mana kekuasaannya berada di tangan rakyat. Pemanfaatan media sosial terhadap demokrasi di antaranya dengan melihat kinerja pemerintah, menyampaikan pendapat dan kritik dengan lebih mudah kepada pemerintah. Terlepas dari itu, media sosial juga dapat membantu pemerintah dan rakyat untuk bersinergi memajukan bangsa,” paparnya.

Sedangkan, toleransi merupakan sikap saling menghargai dan menghormati terhadap perbedaan yang ada. Indonesia sendiri memiliki banyak agama, suku bangsa, dan bahasa daerah. Budaya toleransi di Indonesia sudah ada dari lama.  Dapat diartikan toleransi sudah melekat pada identitas indonesia.

Ia pun menyampaikan, media sosial di era ini juga dianggap sebagai standar hidup bagi sebagian orang. Bahkan, selain untuk berjejaring, banyak yang memanfaatkan media sosial untuk berjualan atau berbisnis. Semua orang pun saat ini memiliki hak yang sama untuk beropini di ruang digital. Selain itu, media sosial dapat digunakan sebagai sarana penghubung atas perbedaan yang ada. Sehingga kita dapat memahami demokrasi dan toleransi dalam bermedia digital.

Dalam mewujudkan demokrasi dan toleransi dalam bermedia sosial. Kita sebagai pengguna harus bisa memanfaatkannya secara bijak. Caranya adalah dengan waspada terhadap hoaks dan isu SARA, jangan sembarangan membagikan postingan, dan membagikan hal atau berita positif.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (7/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Al Akbar (Founder Sobat Cyber Indonesia), Catur Nugroho (Dosen Ilmu Komunikasi Telkom University), Rinda Chayana (Relawan TIK Indonesia), dan Indi Arisa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply