hitcounter
Thursday , January 27 2022

Bijak Berkomentar di Ruang Digital Pilihan yang Aman

Ruang digital yang dipicu oleh jaringan internet dan TI membuka konsep baru pola komunikasi. Semua orang bisa memberitakan, memproduksi informasi, berpartisipasi dan berkomentar di dalam ruang digital. Bijak berkomentar di ruang digital bukan saja pilihan etis yang paling tepat namun juga pilihan paling aman ke depan, agar terhindar dari bumerang di kemudian hari.

“Bijak berkomentar dalam dunia digital menjadi sebuah keharusan dalam komunikasi di media sosial, karena akan menjadi jejak digital,” ujar Tino Agus Salim, Professional Trainer & Motivator, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (26/11/2021).

Ia menambahkan, jejak digital adalah rekam atau bukti yang dilakukan setelah beraktivitas di internet. “Apa yang kita unggah dan apa yang kita unduh berpotensi untuk dicari, dilihat, didisain, dipublikasi dan diikuti oleh orang lain. Jejak digital dapat membentuk citra diri seseorang di mata publik secara luas,” ucapnya.

Ia menerangkan, jejak digital belum tentu mudah dihilangkan jika sudah tersebar di dunia digital. “Kita hendaknya menjadikan media sosial dan aplikasi percakapan untuk mendorong sinergi dan kolaborasi untuk memberi manfaat bersama,” tambahnya.

Persoalannya, orang Indonesia terkenal sebagai warga dunia yang sangat ramah, namun dalam ruang digital terkenal paling tidak sopan, di Asia Tenggara. Data survei DCI, Microsoft, Februari 2021, dari 32 negara, Indonesia peringkat 29.

Berdasarkan survei We Are Social, 2021, dari populasi penduduk Indonesia 274,9 juta jiwa terdapat 345,3 juga ponsel yang terkoneksi dengan internet, sedangkan pengguna internet sendiri ada 202,6 juta dan pengguna media sosial 170 juta.

Karena faktor itulah pemerintah terus menggalakkan literasi digital bahkan menjadi kebutuhan saat ini. Tujuannya untuk meningkatkan kecakapan digital, memahami pentingnya keamanan digital, memahami etika dalam komunikasi dunia digital dan upaya membentuk budaya digital yang baik dan sehat.

Ia juga menyatakan ada tiga skill yang harus dimiliki agar bijak dalam ruang digital. Ketiganya adalah memahami bahasa mesin dan bahasa manusia di dunia digital, berkomunikasi secara baik/profesional di sosial media dan paham cara mengoperasikan gadget, laptop serta aplikasinya termasuk platform-platform yang dibutuhkan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (26/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Husnuz Zaimah (Guru MTsN 2 Mojokerto), Stephanie Olivia (Tenaga Ahli DPR RI), Pinctada Putri Pamungkas (Dosen Teknologi Hasil Pertanian ITSNU Pasuruan), dan Akhmad Tobibi sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

MediaTek Tunjukkan Teknologi Wi-Fi 7 di Dunia kepada Pelanggan dan Pemimpin Industri

MediaTek mengumumkan demo langsung pertama teknologi Wi-Fi 7 di dunia, menyoroti kemampuan portofolio konektivitas Wi-Fi …

Leave a Reply