hitcounter
Monday , September 20 2021

Biar Keren, Yuk Gunakan Bahasa Indonesia di Media Sosial

Kondisi digitalisasi Indonesia saat ini semakin berkembang dan diiringi oleh meningkatnya pengguna. Kemajuan ini mendorong terjadinya komunikasi secara daring seperti keadaan sekarang. Akan tetapi, infrastruktur terhadap pola komunikasi era ini  tidak dibarengi dengan kesiapan masyarakat.

Muhammad Arifin, Kabid Komunikasi Publik Relawan TIK Indonesia, memaparkan sebuah survey terkait minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Berkisar di angka  0,001%, dalam artian dari 1000 orang hanya 1 yang rajin membaca. Minat baca rendah ini diindikasikan berdampak pada penurunan etika, bahasa, dan budaya.

“Bahasa ini erat kaitannya dengan budaya dan peradaban kita yang mungkin dampaknya tidak kita rasakan sekarang, tetapi 10-20 tahun ke depan. Tanpa kita sadari, banyak budaya kita yang bergeser, terutama bahasa,” ujar Arifin, dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021).

Beberapa istilah yang saat ini sering kita dengar terkait pelafalan bahasa. Misalnya, belajar online seharusnya diucapkan belajar daring. Kemudian, kata e-wallet yang seharusnya dompet digital. Arifin mengatakan, penggunaan bahasa seperti ini masih rancu di kalangan masyarakat. Ia mengkhawatirkan, lama-kelamaan ini akan dianggap sebagai bahasa asli dan menghilangkan kosa kata aslinya.

“Bahasa kita bisa saja hilang dalam waktu yang panjang. Sekarang kita bisa biasa saja dan ikut-ikut tren penggunaan bahasa,” tutur salah satu anggota Relawan TIK tersebut.

Hal yang saat ini terjadi, kita didorong untuk menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan KBBI dan belum termasuk dengan penggunaan bahasa negatif. Arifin mengatakan, apabila hal ini dibiasakan dan kita tidak memulai untuk menggunakan bahasa sesuai dengan budaya seharusnya, maka ini akan menjadi budaya tanpa kita sadari. Untuk mempertahankan budaya, Arifin menganjurkan dalam media sosial kita dapat menerapkan kebiasaan untuk menggunakan bahasa sesuai dengan KBBI secara perlahan dan bertahap.

Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa kita agar semakin baik dan sesuai dengan KBBI. Kita dapat menciptakan lingkaran positif yang membahas hal seupa terkait bahasa. Misalnya, dengan mengikuti beberapa akun pegiat bahasa di media sosial, seperti pintubahasa, narabahasa, bastra.id, dan funbahasa.

Arifin berpesan, apabila kita terbiasa menggunakan bahasa yang baik di dunia nyata maka di dunia digital pola bahasa yang digunakan juga baik. Sebaliknya, apabila terbiasa menggunakan bahasa yang buruk dan negatif di dunia nyata, maka di dunia digital pun akan menciptakan kebiasaan yang serupa. Oleh karena itu, jaga penggunaan bahasa kita yang juga mencerminkan budaya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Dino Hamid (Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia), Maman Suherman (Penggiat Literasi Digital),  Adang Budaya (TA DPR RI & Sekretaris Bidang Hukum PWPM Jabar), dan Febrian N. Purbowiseso.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply