hitcounter
Friday , February 3 2023

Berinteraksi dan Berkolaborasi di Ruang Digital

Mempelajari etika di ruang digital agar kita bisa hidup berdampingan di ruang digital. Cara kita berinteraksi pun harus sesuai etika layaknya di dunia nyata. Di ruang digital, setiap orang memiliki kesempata untuk mendapatkan perhatian dari audiens dengan jangakauan yang sangat luas baik untuk tujuan positif atau negatif. Menurut Cyntia Jasmine seorang Founder dari  GIFU, kita harus bisa menjadi penyaring bagi diri sendiri karena tidak semua hal yang kita dapatkan dari internet itu benar dan bisa dipercaya.

“Di ruang digital rawan terjadi kesalahpahaman karena kita bertemu orang-orang dari beragam latar belakang, perbedaan suku, agama, latar belakang pendidikan, dan lainnya. Enggak heran kalau banyak sekali orang yang berbeda pendapat,” jelas Cyntia dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/10/2021).

Ia mengatakan, sangat mudah bagi seseorang untuk berlaku jahat di dunia digital. Pasalnya, menghina orang lain, menyinggung, mencuri, menyebarkan hoaks, dan mengumbar masalah diri sendiri sering kali dilakukan tanpa sadar di ruang digital. Hal tersebut juga mencerminkan minimnya etika di ruang digital. Dampaknya berpengaruh pada reputasi dan masa depan kita baik di dunia pendidikan atau pekerjaan.

“Konten yang kita unggah bisa dibaca siapapun dan dimanapun. Menyedihkan sekali kalau orang-orang sekitar kita melihat postingan negatif kita di masa depan,” ungkapnya.

Cyntia mengimbau agar kita memfokuskan diri untuk membangun citra positif di ruang digital. Dengan citra diri yang baik kita dapat membuka peluang pekerjaan dan kolaborasi di ruang digital. Ketika kita ingin berkolaborasi, agar aman kita bisa cek kredibilitas, jejak digital, value, dan track record kolaborasi dari partner kolaborasi kita.

Kemudian, dalam berkolaborasi kita tetap harus menerapkan etika dan menyadari meski berada di dunia digital kita tetap hidup berdampingan dengan manusia lain. Berinteraksilah dengan sopan layaknya di kehidupan nyata, menahan diri untuk berkomentar pada topik sensitif, serta menghargai karya dan data orang lain agar tidak dibagikan sembarangan.

Perlu diingat bahwa ketika kita ingin lingkungan kita positif kita akan disuguhkan hal positif. Begitupun ketika kita mencari dan ingin membentuk lingkungan negatif. Oleh karena itu, berhati-hati saat menggunakan media sosial dan menciptakan lingkungan di dalamnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (25/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Dee Ferdinand (B2B Digital Strategy Coach),  Irma Nawangwulan (Dosen International University Liason Indonesia), Asep H. Nugroho (Dosen Fakultas Teknik UNIS), dan Janna S. Joesoef (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Nyaman tanpa Kedinginan, Makin Mudah Didapat dengan Samsung AC WindFree™ Lite

Jakarta, Vakansi – Bagi para pengguna air conditioner (AC), hembusan angin AC yang mengenai tubuh …

Leave a Reply