hitcounter
Friday , September 17 2021

Beretika di Ruang Digital Memberi Banyak Keuntungan untuk Personal Branding

Sebanyak 174,5 juta penduduk di Indonesia telah menggunakan internet, 160 juta di antaranya aktif di media sosial. Namun fakta penggunaan media sosial yang sesuai etika di Indonesia cukup mengkhawatirkan setelah adanya hasil survei Digital Civility Index Microsoft yang menyebut tingkat kesopanan masyarakat Indonesia paling rendah se-Asia Tenggara dan termasuk terendak ke-4 di dunia.

“Jadi walaupun jumlahnya lebih dari setengah penduduk Indonesia yang sudah melek digital, sayangnya tidak diiringi etika bermedia digital yang sesuai norma kesopanan. Makanya penting banget untuk belajar beretika di ruang digital meski sudah bisa memakai hp dan sosial media,” kata Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I,  pada Selasa (24/8/2021).

Apalagi pemanfaatan teknologi digital tak sebatas hanya mengoperasikannya dan penggunaan media sosial saja. Lebih dari itu etika di ruang sama dibutuhkannya seperti etika di dunia nyata saat melamar pekerjaan maupun berkomentar walaupum tidak bertatap muka langsung. Sebab ada banyak kasus hanya karena komentar dari jempol yang asal saja bisa menggangu dan menyebabkan seseorang menjadi tidak nyaman, merasa dilecehkan, hingga memicu stres dan gangguan mental, bahkan menyebabkan bunuh diri.

Etika di ruang digital meliputi berkomunikasi yang sopan dan baik, menghindari SARA dan cyberbullying, tidak mengumbar hal-hal pribadi, dan mewaspadai berita hoaks yang beredar di internet. Secara kritis bisa memilah informasi mana yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan, apalagi di masa pandemi Covid-19 begitu banyak informasi kesehatan yang beredar dan belum tentu benar.

Saat menerapkan etika ketika menggunakan media digital pun memiliki keuntungan, seperti membangun personal branding dan membawa  kredibilitas dan kepercayaan. Termasuk membangun relasi, dan membuat seseorang menjadi mudah untuk bisa melakukan kolaborasi misalnya dengan brand atau influencer.

“Tips supaya tidak tertipu atau termakan hoaks ketika ingin berinteraksi dan berkolaborasi adalah mengecek track record, konten apa yang sering dibagikan, perhatikan etikanya di dunia digital, cek kolaborasi dengan siapa saja, dan perhatikan circle terdekatnya,” kata Monica.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply