hitcounter
Thursday , August 5 2021

Belajar Daring Asyik dan Tidak Menjemukan

Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 14 Juli 2021 di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Bagaimana Belajar Online yang Efektif”.

Program kali ini diikuti 863 peserta dan menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari pendiri Yayasan Gorontalo Baik, Ririn Afitri Tatu, S.Psi; Komisioner KPAI Pusat, Retno Listyarti; duta literasi digital Sulsel, Upi Asmaradhana; dan Dosen UIN Alauddin Makassar sekaligus aktivis Ruang Kolaborasi Perempuan, Waode Surya Darmadali. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Mismaya Alhaerat selaku jurnalis. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Pemateri pertama adalah Ririn Afitri Tatu yang membawakan tema “Cakap Berinternet untuk Belajar Online”. Keberadaan internet membuat semuanya lebih mudah dibanding zaman dulu. Semua aktivitas bisa dilakukan dalam genggaman, berkomunikasi dengan teman, mencari informasi, mencari jurnal, berjualan, dan lain-lain. Tentu butuh literasi digital dalam menggunakan internet. Ririn membagikan cara berinternet dengan aman kaitannya dengan pembelajaran daring. Dia pun menguraikan berbagai masalah dalam pembelajaran daring.

Berikutnya, Retno Listyarti menyampaikan materi berjudul “Stop Bullying Now, Take a Stand, Lend a Hand, Generasi Cerdas Anti Cyberbully”. Perundungan merupakan perilaku tidak menyenangkan secara verbal, fisik, atau sosial di dunia nyata maupun maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman atau tertekan. Perbuatan ini dilakukan seseorang atau sekelompok orang. “Mengucilkan termasuk perundungan di dunia nyata. Di dunia maya bisa berupa memblokir, dilakukan satu orang, atau banyak teman, satu geng,” ucap Retno. Selain itu, Retno menguraikan jenis-jenis cyberbullying dan dampaknya. Yang perlu disadari banyak orang, bullying merupakan tindakan pidana. Retno pun memberikan rekomendasi bagi orang tua untuk mencegah anak menjadi pelaku dan korban bullying.

Sebagai pemateri ketiga, Upi Asmaradhana membawakan tema tentang “Literasi Digital Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital, Cara Belajar Mengajar yang Efektif di Kelas Virtual”. Salah satu rekomendasi dalam pembelajaran virtual adalah sebaiknya lebih banyak menggunakan visual agar bisa menarik. Pasalnya, salah satu tantangan kelas digital adalah jarak. Rekomendasi lain adalah meningkatkan partisipasi dan interaksi. Terakhir, harus ada evaluasi apakah materi yang diajarkan bisa dipahami. Upi juga membagikan tips membuat konten virtual.

Adapun Waode Surya Darmadali sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema mengenai “Digital Safety: Tips Menjaga Keamanan Digital bagi Anak-anak di Dunia Maya”. Waode menyebut sepertiga pengguna internet saat ini masuk kategori anak-anak. Gawai dan internet memang memberikan dampak positif. Namun, ada juga dampak negatifnya. Atas dasar itu, dia pun memberikan tips bagi anak-anak berinteraksi dengan internet, salah satunya menerapkan screen time.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber. Salah satu pertanyaannya, “Kalau ada korban bully di masa mudanya, karena tidak gaul, kutu buku, kuper, dan sejenisnya, ketika punya anak rasa trauma sebagai korban itu masih ada. Akibatnya, korban tidak merasa tenang melepas anaknya di pergaulan. Sampai terpikir ambil homeschooling untuk anaknya. Menurut Ibu apa yang harus dilakukan si korban?” tanya Irfan Nur kepada Retno Listyarti.

“Terkait orang tua yang pernah jadi korban bully, trauma tidak tersembuhkan lalu menjadi protektif pada anak. Kalau orang tua menyadari, ini bagus karena sudah ada kesadaran. Trauma itu harus dihilangkan dulu. Karena kalau tidak, anak yang diproteksi berlebihan itu menjadi tidak percaya diri, menjadi takut, ragu-ragu mengambil keputusan. Saya menyarankan untuk konsultasi psikologi klinis,” kata Retno.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan  materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply