hitcounter
Monday , September 20 2021

Begini Cara Melawan Ujaran Kebencian di Media Sosial

Media sosial telah menghubungkan orang secara pribadi, komunitas, hingga dapat menjalin hubungan, memotivasi dan kerjasama, sebagai cara memanfaatkan sisi positifnya. Akan tetapi di balik itu terdapat juga dampak negatifnya yakni adanya tindak kejahatan penipuan, transaksi narkoba, terorisme, eksploitasi seksual anak online, bahkan yang belakangan makin sering adalah ujaran kebencian.

“Ujaran kebencian bisa berarti tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok lain,” kata Pipit Djatma, Fundraiser Consultant & Psychosocial Activist IBU Foundation saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, Selasa (7/9/2021).

Beberapa hal yang terkait dengan ujaran kebencian biasanya melibatkan aspek suku, agama, ras, warna kulit, antar golongan, etnis, gender, disabilitas, hingga orientasi seksual. Contoh perbuatan ujaran kebencian yaitu berupa penghinaan, penghasutan, provokasi, penistaan, pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong, dan perbuatan tidak menyenangkan.

Sementara itu motif orang dalam melakukan ujaran kebencian terkait faktor yang ada di dalam diri seperti tidak menerima perbedaan pendapat, tidak menyukai sesuati hal dengan menunjukkannya di media sosial, hingga pengungkapan emosi yang tidak terkontrol terhadap seseorang atau kelompok yang menimbulkan provokasi. Adapun faktor di luar diri, disebabkan oleh pengaruh lingkungan pertemanan dan komunitas tertentu.

Di balik motif tersebut, jangan lupakan dampak dari ujaran kebencian. Mulai dari diskriminasi, penghilangan nyawa, kekerasan, konflik sosial, mendapatkan rasa malu dari sanksi sosial, kehilangan reputasi baik, hingga bisa membuat pelakunya terjerat UU ITE atau bahkan dipidanakan yang berakhir dengan hukuman penjara dan hukuman sosial.

Nah, untuk menghindari menjadi pelaku ujaran kebencian setiap orang harus memahami tentang etika dalam berinternet atau disebut netiket. Yakni mengingat keberadaan orang lain, taat pada standart perilaku seperti halnya di dunia nyata, berpikir dulu sebelum komentar, gunakan bahasa yang sopan santun, menggunakan media sosial untuk berbahi ilmu, menghormati privasi orang lain, jangan menyalahgunakan kekuasaan, dan maafkan orang lain yang membuat kesalahan.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, Maria Natasya, seorang Graphic Designer, dan Fiona Damanik, seorang Psikolog dan Konseler dari Universitas Multimedia Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply