hitcounter
Sunday , November 28 2021

Bahaya Hoaks Seperti Virus Corona, Beredar Lebih Cepat daripada Klarifikasinya

Survei katadata insight center dan Kominfo mengenai status literasi digital Indonesia tahun 2020, sebanyak 68,4% orang hanya meneruskan berita yang tersebar dan 51,6% tidak mengetahui bahwa informasi yang mereka sebar ternyata tidak benar. Sementara hanya sebanyak 2,7% mengaku untuk memengaruhi orang lain.

“Banyak orang yang hanya meneruskan informasi hoaks karena tidak terlalu memikirkan apakah itu benar atau tidak,” ujar Ari Budi Wibowo, Kepala Bidang kemitraan Siber Kreasi saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I, Selasa (2/11/2021).

Dia mengatakan, era keterbukaan informasi berkat jaringan internet dan sejak pandemi kebiasaan masyarakat berubah. Informasi juga mengalami penyebarannya yang cepat, namun jauh dari akurat. Bahkan sumber UNESCO mengatakan saat ini masyarakat dunia tidak hanya mengalami pandemi karena penyakit.

Namun Covid-19 juga menyebabkan disinformasi pandemi yang secara langsung berdampak pada kehidupan banyak orang. Sehingga kebohongan dan kesalahan informasi telah terbukti mematikan dan menyebarkan keresahan serta kepanikan di masyarakat.

Menurut Ari, seperti mengutip pernyataan Direktur Jendral WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus kini masyarakat tidak hanya sedang memerangi epidemi tapi juga infodemi atau informasi mengenai pandemi yaitu berita palsu yang menyebar lebih cepat dan lebih mudah daripada virus corona dan sama bahayanya.

Dia juga mengatakan, dampak dari hoaks atau berita palsu mengenai informasi pandemi disebut berbahaya karena bisa memicu kepanikan, membuat orang menyepelekan Covid-19, abai terhadap protokol kesehatan, tidak mau divaksinasi, yang akibatnya membahayakan keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan. Apalagi hoaks menyebar jauh lebih cepat, daripada klarifikasi informasi palsu yang dikelahui 20 kali lebih lama dari hoaks atau disinformasi.

Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum berfikir kritis di dunia digital. Sehingga perlu adanya literasi digital agar bisa melihat, membaca, mengetahui benar atau tidak. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum melakukan cek fakta makanya bisa dibilang kita tidak kritis, maka mudah saja menyebarkan berita-berita palsu.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Whisnu Bakker, Head of Digital Marketing Paragon Pictures, Mona Ratuliu, Founder ParenThink, Vivian Wijaya, Enterpreneur & Beauty Enthusiast.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply