hitcounter
Tuesday , August 3 2021

Bahasa Indonesia Itu Keren, Penuturnya Ke-8 Terbesar di Dunia

Di era digital sekarang ini, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah melonggar. Terlebih bila melihat penerapannya di media sosial ada kebiasaan mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, atau menyingkat kata-kata agar lebih praktis.

“Budaya dan bahasa sangatlah terkait, tanpa bahasa manusia tidak bisa menciptakan kebudayaan dan tak bisa mengenal era peradaban,” kata Faqih Ibrahim, Ketua Koordinator Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Siliwangi, saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I, Kamis (8/7/2021).

Terlebih Indonesia memiliki beragam budaya dengan bahasa yang berbeda dari Sumatera, Jawa hingga Papua. Dengan 17 ribu lebih pulau, jumlah suku dan 400 lebih etnis. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menjadi identitas bangsa yang perlu dijaga dan dirawat.

Namun dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar seseorang juga tetap harus memiliki konteks percakapan yang sesuai dengan kondisinya. Misalnya ketika di pasar berbicara kepada pedagang, biasanya penggunaan bahasa tidak harus baku tata bahasanya atau lengkap antara subjek dan predikatnya. Berbeda ketika penggunaan bahasa berbicara kepada guru atau dosen yang memerlukan tata bahasa norma kesopanan walaupun hanya melalui pesan Whats’App.

Lebih jauh Faqih mengatakan, ada 5 ragam bahasa yang dapat digunakan sesuai situasi. Pertama; ragam beku dipergunakan pada situasi hikmat misalnya pada kitab suci, putusan pengadilan dan upacara pernikahan. Kedua; ragam resmi, digunakan dalam komunikaso resmi misalnya untuk pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah. Ketiga; ragam konsultatif yaitu digunakan dalam pembicaraan di sekolah atau dipasar. Keempat; ragam santai yang digunakan daam suasana tidak resmi. Kelima; ragam akrab yaitu digunakan di antara orang yang memiliki hubungan akrab.

Lebih lanjut dia mengatakan, terkait dampak penggunaan bahasa dalam dunia digital ancamannya adalah terjadinya ambigu makna dan menjadi kebiasaan yang salah. Padahal ada peluang yang bisa didapat bila seseorang atau institusi menggunakan bahasa yang baik dan benar. Seperti akan menyasar pasar marketing yang tepat dan menambah jejaring bisnis karena pengguna bahasa telah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

“Namun membaca tren, bahasa Inggris semakin banyak digunakan sebagai bahasa komunikasi orang Indonesia, bahkan oleh tokoh panutan. Pengaruh bahasa Inggris pun semakin terasa dalam tata bahasa dan kosakata bahasa Indonesia,” katanya.

Orang Indonesia merasa sudah menguasai bahasanya sehingga tidak mau membuka kamus atau buku tata bahasa Indonesia. Rendahnya konsistensi penggunaan istilah bahasa Indonesia dalam berbagai media sosial. Padahal bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa yang dapat menumbuhkan nasionalisme.

“Bahasa Indonesia itu keren, memiliki 240 juta lebih penutur, kedelapan terbesar di dunia dan 17 juta penutur asli ke-50 terbesar di dunia. Tanpa tensis, memiliki aturan pembentukan kata yang sederhana, menggunakan alfabet latin,” katanya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery, Yusep Rafiqi, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi Tasikmalaya dan Nandya Satyaguna, Dokter Umum.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital, untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Yuk Sebarkan Hal Positif yang Selaras dengan Nilai Pancasila di Ruang Digital

Kegiatan masyarakat sekarang ini mulai beralih menggunakan media digital. Dikarenakan, transformasi digital kini sudah mencapai …

Leave a Reply