hitcounter
Tuesday , July 16 2024

Ancaman Hoaks dan Nilai Kesopanan Digital Netizen Indonesia

Konten berita palsu atau hoaks di Indonesia semakin mengkhawatirkan, sejak meningkatnya aktivitas online masyarakat. Diketahui Indonesia menempati urutan pertama dengan volume konten terbanyak yang diminta untuk dihapus dari semua produk Google, baik YouTube, Google Search hingga Blogger menurut laporan Google bertajuk “Content Removal Transparancy Report” Januari-Juli tahun 2021.

Menilik kondisi kesopanan digital netizen Indonesia bahkan laporan Survei Microsoft mengenai Digital Civility Index (DCI) 2020 menempatkan Indonesia berada di urutan terakhir dari “Kesopanan di dunia digital” di Asia Tenggara. Dari survei menyebut beberapa hal yang mengidentifikasi menjadi ancaman media sosial di Indonesia yaitu 47% terkait hoaks dan penipuan, 27% ujaran kebencian, dan 13% untuk diskriminasi.

Irma Nawangwulan seorang Dosen di IULI mengemukakan porsi besar hoaks dan penipuan di ranah daring harus menjadi perhatian. Apalagi mengingat bahaya hoaks yang bisa menjadi alat untuk membunuh karakter seseorang, memecah belah masyarakat, dan dapat menimbulkan kecemasan.

“Hoaks berkembang di Indonesia karena kemampuan literasi masyarakat yang rendah dalam membaca dan mencerna informasi, serta tidak kritis menelaah berita,” katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I,  pada Kamis (4/11/2021).

Sebagai bagian dari etika di ruang digital untuk sopan dan beradab, hoaks bisa dicegah dengan cara memilah informasi yang diterima.
Kemudian bijak dalam menyebarkan informasi, jangan asal dalam membagikan namun saring dulu apakah hal tersebut benar. Sebagai warga digital yang baik, kontribusi membuat konten yang produktif dan positif juga membuat ekosistem digital jadi lebih sehat ketimbang hanya berkomentar.

“Sering-seringlah bertanya dulu kepada diri sendiri sebelum mengunggah apakah isinya positif, benar, dan perlu,” tutur Irma

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bogor,  Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Henry V Herlambang, CMO Kadobox, Andry Hamida, Head of Visual Brand Hello Monday Morning, Rino dari Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma, dan Manda Utoyo, seorang Mompreneur.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Philips LED Downlight Hadirkan Pencahayaan Hunian yang Terang, Nyaman dan Estetik

Jakarta, Vakansi – Signify (Euronext: LIGHT), pemimpin dunia di bidang pencahayaan untuk profesional dan konsumen, …

Leave a Reply