hitcounter
Monday , October 18 2021

Aman dan Nyaman Berdigital dengan Menjauhi Hoaks

Konten negatif merupakan informasi dengan memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, ujaran kebencian, dan pengancaman. Berita bohong dan menyesatkan pun termasuk ke dalam konten negatif. Hal ini karena mengakibatkan kerugian bagi pengguna. Konten negatif lainnya yaitu perundungan siber atau cyberbullying, yakni tindakan agresif dari seseorang atau sekelompok orang lain yang lebih lemah.

“Hoaks menyebabkan kekacauan informasi, seperti misinformasi, disinformasi, dan malinformasi,” tutur Ugan Nugraha selaku Relawan TIK Jawa Barat dan pembicara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021) siang.

Ia menjelaskan, masyarakat mudah percaya hoaks karena minimnya filter terhadap suatu informasi. Kemudian, faktor pendorong ialah minimnya literasi yang bisa dibuktikan dengan membaca judul tanpa isi, serta tidak suka memeriksa kembali informasi yang didapatkan. Sebagian orang pun ada yang merasa hebat ketika mengetahui informasi lebih dulu, padahal keaslian dan kebenaran informasi yang dibagikan belum terbukti. Akibatnya, kita bisa terjerat UU ITE menyebarkan hoaks.

Agar tidak terjebak hoaks, Ugan menuturkan kita perlu mengetahui ciri-cirinya. Pertama, sumber informasi tidak jelas. Kedua, kalimat-kalimat dalam informasi hoaks membangkitkan emosi. Ketiga, menggunakan argumen ilmiah yang salah. Keempat, menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Kelima, minta diviralkan atau disebarkan.

Ketika menerima informasi, sikap yang seharusnya kita lakukan ialah membaca informasi secara menyeluruh, mencari sumber berita dari media kredibel, melihat manfaat dari berita tersebut, memberi pesan pribadi kepada penyebar jika ingin menambahkan referensi informasi.

“Keamanan di dunia digital tergantung kita selaku individu/pengguna. Kita yang bisa mengamankan diri, memfilter diri ketika bermedia sosial,” ujar Ugan.

Tips bijak saat bermedia digital yaitu selektif memilh teman, mengenali ciri hoaks, menghindari mengunggah data pribadi, tidak pamer di media sosial, membagikan pandangan politik secara bijak dan santun, dan hanya menampilkan postingan positif.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021) siangjuga menghadirkan pembicara Dera Firmansyah (Founder, Owner, & Podcaster Teman Tidur), Stelita Marsha (Tenaga Ahli Kemendikbudristek), Herman Pasha (Senior Trainer & Coach), dan Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Kembali Pada Dasar Negara

Perubahan budaya terjadi sekarang ini sangat terlihat, bagaimana aktivitas yang biasa dikerjakan menjadi berubah. Perubahan …

Leave a Reply