hitcounter
Sunday , November 28 2021

Adaptasi ke Arah Digital Membutuhkan Keterbukaan Cara Pandang Masyarakat

Digitalisasi sebagai perubahan kehidupan masyarakat dari semula yang bersifat tradisional menjadi digital berlangsung lebih cepat sejak pandemi Covid-19. Dengan hal itu, masyarakat pun dituntut untuk beradaptasi dan membuka pola pikirnya dalam menerima perubahan.

“Mindset masyarakat kita terhadap sebuah perubahan harus diterus latih. Karena polanya semua menuju ke arah digitalisasi,” ujar Golda Siregar, Senior Consultant at Power Character saat webinar Literasi Digital wilayah Ciamis, Jawa Barat I,  pada Rabu, (13/10/2021).

Akan tetapi, semua hal yang mengarah pada digitalisasi tetap harus memerhatikan sisi manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa dan karsa. Manusia akan tepat membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya meski di ranah digital, sebab manusia merupakan makhluk sosial. Saat sekarang manusia lebih banyak ada di rumah pun, interaksi tetap ada interaksi namun dalam pola berbeda. Berkaitan dengan transformasi digital tersebut hal ini terjadi saat individu berinteraksi sosial melalui media sosial.

“Bahwa pengguna media sosial juga manusian yang dapat terluka dengan ucapan orang lain di media sosial,” katanya.

Bahkan etika di ruang digital dalam mengunggah pesan dan mengomentari sesuatu bakal memengaruhi relasi dengan manusia lainnya. Ktena di ruang digital setiap orang tetap berhubungan dengan manusia, bukan layar ponsel. Begitu juga akan menjadi cemas saat membaca hoaks, sehingga setiap individu mesti mengetahui bahwa interaksi sosial juga mengalami transformasi. Hal tersebut terjadi pada bidang pekerjaan yang perlu mengalami adaptasi bekerja dan meeting di rumah. Mindset pengguna harus berubah, bukan hanya semuanya harus digitalisasi tapi juga secara personal budaya inilah yang harus dibangun.

Webinar Literasi Digital di Ciamis, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Andry Hamida, Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning, Benny Daniawan, Dosen Sistem Informasi di Universitas Buddhi Dharma, serta Tabitha Purba, seorang Dokter Gigi dan Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply