hitcounter
Thursday , August 5 2021

4 Standar Etika di Dunia maya Maupun Dunia Nyata

Dalam literasi digital, ada etika yang harus dimiliki oleh seluruh penghuni ruang digital. Didin Miftahudin, Founder Gmath Indonesia memberikan penjelasan soal etika digital yang harus dimiliki oleh warga digital khususnya para profesional digital.

Sebab, sebagai seorang programmer baginya harus memiliki etika agar menjalankan tugas sesuai dengan jalurnya. Pria yang sudah menjadi programmer selama 30 tahun ini mengatakan, terdapat empat standar etika di dunia nyata maupun di dunia maya.

Pertama etika deskriptif yaitu tidak memberikan penilaian terhadap objek yang kita amati. “Misalnya, saya seorang programmer saya install sebuah program atau misalnya anda meng-instal sebuah media digital di sana anda hanya diam saja, tidak berkomentar hanya melihat-lihat saja inilah etika deskriptif artinya tidak peduli dengan sekitar etika yang paling mendasar semua orang memiliki etika ini,” jelasnya pada kesempatan Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin, (12/7/2021).

Kedua, etika normatif yakni memberi penilaian terhadap apa yang dilihat, apa yang kita rasakan. Penilaian bisa bersifat baik atau buruk. Misalnya seseorang yang masuk ke sebuah platform, lantas selalu menilai apa yang dia alami di dalam platform tersebut.

Ketiga, etika individual, jiwa setiap orang ada rasa individualnya inilah bagaimana kita mengekspresikan seorang individu di media sosial. Dan keempat etika sosial membicarakan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial selalu ingin berinteraksi antara manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Etika ini adalah soft skill yang merupakan sebuah pemberian dari Tuhan namun bisa dipelajari beda dengan hard skill yang memang itu harus dipelajari.

Agar tidak melanggar etika digital kita harus selalu memberikan kesan yang baik, tidak membuat konten yang dapat meninggalkan kesan buruk untuk memunculkan permasalahan di masa depan. Menggunakan bahasa yang sopan serta tidak membagikan hal-hal yang bersifat privasi, apalagi membagikan privasi orang lain jangan melakukan.

Sementara itu etika di sosial media jangan menggunakan kata-kata kasar ditambah provokatid. Jangan memposting artikel status yang bohong dan memberikan komentar yang tidak relevan. Didin juga menambahkan, jauhi hal-hal pemicu terjadinya pertengkaran di media sosial seperti salah paham.

“Maka sebaiknya tidak perlu menyindir, jika tanpa menyebut nama dapat membuat salah paham seolah-olah sindiran itu untuk dirinya. Berbeda pendapat atau prinsip hal-hal sepele yang bisa menimbulkan kericuhan juga harus dihindari,” jelasnya.

Terakhir, tidak memposting mengenai SARA, perbedaan Indonesia bukan berarti atau bukan untuk dipertanyakan dan diperdebatkan

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin, (12/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Aris Rifandi (Relawan TIK Sukabumi), Santi Indira (Dosen Unisba), dan Muhammad Ridwan Arif (Praktisi Parenting Digital) dan drg. Anwina Pradini sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply