hitcounter
Sunday , February 18 2018
Home / Berita Wisata / Sektor Pariwisata, Masa Depan Provinsi Riau
sektor pariwisata

Sektor Pariwisata, Masa Depan Provinsi Riau

Bukan rahasia lagi jika sektor pariwisata saat ini menjadi primadona bagi daerah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Hal ini pun berlaku bagi Pemerintah Provinsi Riau yang selama ini lebih mengutamakan sektor minyak dan CPO. Arsyadjuliandi Rachman, Gubernur Riau, menyatakan, Provinsi Riau akan menjadikan pariwisata sebagai sektor utama, antara lain dengan mengadakan sejumlah event unggulan sebagai daya tarik wisata.

Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI, mengatakan, peluncuran Calendar of Event Riau 2016 merupakan wujud dari Provinsi Riau untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sektor andalan (selain minyak bumi dan kelapa sawit yang selama ini sebagai sumber utama) sekaligus dalam rangka mendukung program Pesona Indonesia dan Wonderful Indonesia mewujudkan target kunjungan 12 juta wisatawan mancanegara dan pergerakan 260 juta wisatawan nusantara pada 2016.

Untuk mendukung target pariwisata nasional tersebut, Provinsi Riau telah menetapkan sejumlah event unggulan pariwisata yang mengandalkan daya tarik alam,  budaya, dan daya tarik wisata buatan (man-made), seperti Festival Budaya Pacu Jaluar dan Bakar Tongkang, serta Festival Bekudo Bono yang telah mendunia.

“Pilihan Riau menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan adalah pilihan yang sangat tepat, sebab apabila tetap mengandalkan pada minyak dan CPO yang selama ini menjadi andalan Provinsi Riau, ke depannya kedua komoditas tersebut akan terus menurun. Pada 2020 mendatang, penghasilan devisa dari minyak trennya akan menurun tajam, begitu pula dari CPO yang trennya hanya mendatar. Sementara itu, pariwisata trennya meningkat, dan akan menjadi penghasil devisa terbesar mencapai Rp240 triliun,” kata Arief Yahya.

Arief menjelaskan, potensi yang dimiliki Provinsi Riau tinggal ditingkatkan dengan strategi pemasaran dan promosi yang mengacu pada strategi Kementerian Pariwisata dengan pendekatan DOT (Destination, Origin, dan Time) serta BAS (Branding/PR-ing, Advertising, dan Selling).

“Selain itu, tiga komponen aksesibilitas, atraksi, dan amenitas juga harus dibangun dan ditingkatkan,” tambah Arief Yahya.

Menurut Arief, atraksi wisata seperti Festival Budaya Pacu Jalur dan Bakar Tongkang mampu mengundang banyak wisatawan, termasuk wisman dari etnis Tionghoa yang mencapai 20.000 wisman. Riau juga memiliki event wisata petualangan (adventure tourism) dan wisata olahraga (sport tourism) yang masih perlu digencarkan lagi strategi pemasaran dan promosinya.

Arsyadjuliandi Rachman menambahkan, kekayaan sumber daya alam yang telah memberi  berkah di Riau telah bertemu dengan keinginan kuat dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dalam menghadirkan terobosan baru, yakni di sektor pariwisata.

“Bumi Lancang Kuning kini sedang berbenah mengembangkan layarnya dengan menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian. Kami harapkan sektor ini akan mampu memberikan kontribusi positif terhadap sektor lainnya,” kata Arsyadjuliandi.

Arsyadjuliandi mengatakan, performa Provinsi Riau di sektor pariwisata pada 2015 lalu cukup menggembirakan dengan aktif  berpartisipasi di berbagai event pariwisata nusantara dan mancanegara, serta berhasil meraih predikat The Best untuk penampilan seni dan budaya yang dilombakan pada China ASEAN Expo 12th di Nanning, Cina, mewakili Indonesia.

Geopark Mengangkat Pamor Destinasi Wisata Alam

About admin

Check Also

WhatsApp Image 2018-02-08 at 19.45.27

Sumbar Siap Majukan Pariwisata

Sumatera Barat (Sumbar) harus siap dengan komitmen untuk memajukan pariwisata. Karena Sumbar punya potensi alam …